Harga Gabah Kering Panen Masih Rp8.300 per Kg, Petani Sragen Untung Besar

Harga Gabah Kering Panen Masih Rp8.300 per Kg, Petani Sragen Untung Besar
Para pekerja memanen padi dengan menggunakan combine harvester di persawahan wilayah Tunggul, Gondang, Sragen, Sabtu (17/101/2026)

Semarangtoday.com, SRAGEN — Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani di wilayah Kabupaten Sragen tercatat masih bertahan tinggi menjelang akhir musim panen ketiga. Hingga pertengahan Oktober 2026, harga GKP masih berada di kisaran Rp7.900 hingga Rp8.300 per kilogram. Kondisi harga tersebut memberikan keuntungan signifikan bagi para petani di Sragen. 

Pada awal-awal musim panen, harga GKP tembus sampai harga Rp8.500 per kg, bahkan di daerah tertentu ada yang sampai Rp9.000 per kg.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Sragen, Suratno, mengungkapkan kondisi harga pada musim panen ketiga tahun ini terbilang sangat menggembirakan. Dia mengatakan harga GKP yang tinggi melampaui kebiasaan musim panen pada tahun-tahun sebelumnya.

“Biasanya, harga gabah berada di atas Rp7.500 per kg saja, petani sudah sangat bersyukur. Namun, pada panen kali ini, harga masih stabil di rentang Rp7.900, Rp8.000, hingga mencapai Rp8.300 per kg di beberapa lokasi seperti Kecamatan Plupuh,” ujar Suratno kepada Espos, Minggu (18/10/2026).

Suratno menjelaskan tingginya harga gabah dipengaruhi oleh kombinasi kondisi cuaca serta nihilnya isu kebijakan impor beras di saat musim panen raya.

“Pengalaman tiga tahun ke belakang, saat petani Sragen panen raya sering kali diiringi isu impor beras yang membuat harga mendadak jatuh. Alhamdulillah, musim ini tidak ada isu impor. Selain itu, kualitas hasil panen juga sangat baik dengan produktivitas mencapai 2,9 ton hingga 3 ton per patok,” jelasnya.

Dia melihat saat ini, kegiatan panen masih berlangsung di sejumlah wilayah di Sragen, antara lain di Kecamatan Sambungmacan, Gondang, Masaran, hingga Plupuh. Kendati harga gabah tinggi, Suratno tidak memungkiri adanya peningkatan pada biaya produksi. Dia menjelaskan musim kemarau menuntut petani mengeluarkan biaya ekstra, terutama untuk pompanisasi penyedotan air.

Dengan harga GKP yang tinggi, kata dia, mampu menutup biaya produksi yang tinggi pula. “Untuk petani yang menggarap lahan milik pribadi tanpa sewa dan dikerjakan sendiri, masih mendapat keuntungan bersih 40%. Sedangkan bagi petani yang menggarap lahan sewa, jelas dia, margin keuntungannya berada di kisaran 20% hingga 30% dari total biaya produksi,” jelas dia.

Dia menerangkan menjelang akhir musim panen harga GKP masih Rp8.300 per kg sebenarnya tidak wajar, tetapi kenyataannya terjadi. Padahal harga pembelian pemerintah (HPP) hanya Rp6.500 per kg. Dia menyatakan petani patut bersyukur harga GKP masih di atas Rp8.000 per kg karena inilah keberkahan El Nino bagi petani.

“Jadi selama tidak ada isu impor saat musim panen, harga gabah tidak akan anjlok. Pengalaman 3-5 tahun ke belakang isu impor membikin harga gabah anjlok,” ujar dia.

Leave a Reply