4 Orang di Sleman Meninggal karena Leptospirosis, Jumlah Kasus Tembus 112

4 Orang di Sleman Meninggal karena Leptospirosis, Jumlah Kasus Tembus 112
Ilustrasi tikus. (Freepik)

Semarangtoday.com, SLEMAN — Empat orang meninggal dunia meninggal dunia karena terjangkit leptospirosis di Kabupaten Sleman hingga September 2026. Sedangkan untuk kasus positif leptospirosis di Sleman mencapai 112 dan kasus suspek leptospirosis ada 80. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati, mengatakan kasus leptospirosis paling banyak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Ngemplak 2 dan Puskesmas Gamping 2.

“Kasus leptospirosis sampai September ada 112 kasus, yang meninggal dua orang. Untuk kasus suspek leptospirosis ada 80 kasus dengan jumlah meninggal untuk kasus suspek dua orang,” katanya pada Senin (26/10/2026).

Khamidah menjelaskan leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri tersebut dapat menular kepada manusia melalui kontak dengan urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus.

Penularan dapat terjadi ketika bakteri masuk ke tubuh melalui luka pada kulit atau selaput lendir, khususnya saat seseorang berkegiatan di lingkungan yang telah tercemar. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di tempat yang berpotensi menjadi sarang atau jalur pergerakan tikus.

Kebersihan lingkungan dan pengendalian populasi tikus menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko paparan. Warga juga diminta memperhatikan kebersihan diri serta menjaga makanan agar tidak mudah terkontaminasi.

“Waspada untuk menjauhi tempat-tempat yang diperkirakan menjadi tempat tikus bersarang ataupun lalu lalang, agar sering cuci tangan dengan air mengalir memakai sabun, menutup makanan, memberantas sarang tikus,” ujarnya.

Tak Abai Kondisi Kesehatan

Selain melakukan pencegahan di lingkungan rumah, masyarakat diimbau tidak mengabaikan kondisi kesehatan apabila merasa sakit setelah kemungkinan terpapar urine tikus. Riwayat aktivitas di lingkungan berisiko perlu disampaikan saat menjalani pemeriksaan medis.

Khamidah menekankan pentingnya segera membawa orang yang sakit untuk diperiksa apabila terdapat riwayat paparan yang dicurigai berkaitan dengan urine tikus. Langkah tersebut menjadi bagian dari kewaspadaan agar dugaan infeksi dapat segera ditangani oleh tenaga kesehatan.

“Segera memeriksakan pasien yang sakit dan ada riwayat dicurigai terpapar kencing tikus sebelumnya,” kata dia.

Dinkes Sleman mengimbau masyarakat menerapkan langkah pencegahan secara konsisten, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, hingga menyimpan makanan dalam wadah tertutup.

Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis ketika sakit, terutama jika sebelumnya beraktivitas di lingkungan yang berisiko terpapar bakteri Leptospira.  

Berita ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul Leptospirosis di Sleman Capai 112 Kasus, Total 4 Orang Meninggal

Leave a Reply