Semarangtoday.com, SOLO — Rentetan permasalahan ekonomi, ketidakpastian sosial, hingga gempuran berita buruk yang masif di media sering kali menjadi pemicu menurunnya kondisi kesehatan mental dan munculnya kecemasan.
Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Cabang Soloraya, Zein Hidayat, memaparkan bahwa asupan informasi yang masuk ke dalam pikiran sangat memengaruhi kesehatan mental seseorang.
Praktisi psikolog itu juga menjelaskan paparan media dan berita-berita negatif yang tidak disaring dengan baik diyakini dapat berdampak buruk secara psikologis.
“Sering kali yang membuat mental kita kurang sehat adalah apa yang masuk dalam pikiran kita, seperti media atau berita-berita yang kurang baik. Jika kita tidak bisa memfilter, itu akan berdampak pada kesehatan mental kita,” papar Zein di sela-sela acara Festival Kesehatan Mental di CFD Jl. Slamet Riyadi Kota Solo, Minggu (18/10/2026).
Untuk membuktikan hal tersebut, ia mengatakan Himpsi menggelar eksperimen sosial (social experiment) kepada para pengunjung yang hadir di CFD Solo.
Melalui eksperimen sosial tersebut, lanjut Zein, pihaknya memberikan stimulus berupa bacaan atau informasi tertentu guna mengukur secara langsung sejauh mana kondisi kesehatan mental peserta terdampak oleh paparan informasi.
Merespons situasi krisis tersebut, Himpsi Soloraya bersama Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) menggelar Festival Kesehatan Mental di CFD Solo, Minggu (18/10/2027), guna mengedukasi warga tentang pentingnya membangun resiliensi.
Resiliensi yang dimaksud adalah kemampuan mental seseorang untuk bangkit dan tetap tangguh ketika menghadapi tekanan, kegagalan, trauma, atau situasi yang sangat sulit.
Zein menyampaikan kampanye ini sangat krusial untuk menyadarkan masyarakat bahwa merawat kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.
Terlebih menurutnya di tengah himpitan hidup dan tantangan ekonomi masa kini yang makin kompleks, memiliki resiliensi menjadi kunci agar tidak mudah tumbang.
Pihaknya berupaya menanamkan pemahaman tentang resiliensi yang dinilai sangat penting agar masyarakat mampu tampil tangguh dalam menghadapi ragam persoalan saat ini, baik itu tekanan ekonomi, dinamika sosial, maupun permasalahan lainnya.
“Kita ingin saling mendukung dan menguatkan kebersamaan agar masyarakat Soloraya bisa tangguh menghadapi segala permasalahan hidup,” terangnya.
Menambahkan, Psikolog dari Himpsi Soloraya sekaligus Wakil Ketua Festival, Endah Ayu Pamungkas menegaskan di tengah himpitan masalah dan tantangan hidup yang serba pelik seperti sekarang, masyarakat pada dasarnya hanya dihadapkan pada dua pilihan.
“Pilihan kita dua, bagaimana kita menyerah, atau bagaimana kita bisa tetap bertahan, berinovasi, dan senantiasa berkreasi agar kuat menghadapi segala tantangan. Itu yang menjadi tema kami, bagaimana menguatkan itu bersama-sama,” tegas Endah.
Untuk membantu masyarakat agar tidak menyerah pada tekanan hidup, Endah menyebut Himpsi terus berupaya mendobrak stigma terkait layanan konsultasi ke psikolog itu mahal.
Pihaknya saat ini telah menggandeng Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk menyediakan akses layanan kesehatan mental secara gratis dan inklusif di tingkat akar rumput.
Layanan gratis tersebut kini telah tersedia melalui program Posyandu Plus dan fasilitas psikolog di Puskesmas. Tak hanya itu, kolaborasi ini juga merambah pendampingan ke sekolah lansia hingga program pencegahan stunting dari sisi psikologis.
“Tingkat kesadaran [awareness] warga di Solo sebenarnya sudah cukup bagus. Peserta konseling di Posyandu Plus itu peminatnya cukup banyak, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia,” ungkap Endah.
Berdasarkan kondisi di lapangan, Endah menguraikan bahwa masyarakat sejatinya sudah menyadari pentingnya peran kesehatan mental untuk menunjang kehidupan sehari-hari.
Hanya saja, ia tak menampik masih adanya hambatan berupa rasa kurang percaya diri atau gengsi ketika aktivitas konseling mereka dilihat oleh teman-temannya.
Koordinator Koordinator Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) Wilayah 3, Kanestren Salsabila juga memandang kondisi masyarakat Indonesia saat ini memang sedang dilanda banyak ketidakpastian.
Berita buruk tentang kondisi krisis dan masa depan yang tak menentu menjadi trigger memburuknya kondisi mental masyarakat umum maupun di kalangan mahasiswa.
Pihaknya terus berupaya mengedukasi masyarakat agar mampu menavigasi diri di tengah krisis, salah satunya melalui penyelenggaraan webinar tentang problem solving hingga survei kondisi mental di lapangan.
“Kita memberikan navigasi agar masyarakat umum dan mahasiswa mampu bertahan, memiliki resiliensi, serta kemampuan problem solving dari kondisi-kondisi yang tidak pasti dan krisis yang ada di Indonesia saat ini,” katanya.

Leave a Reply