Semarangtoday.com, BOYOLALI — Pengurus Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) memperoleh manfaat dari sisa hasil usaha (SHU), bukan dari gaji. Sementara itu, manajer koperasi berstatus pegawai dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) dan akan menerima gaji dari PT Agrinas Pangan Nusantara.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan pengurus koperasi memiliki peran sebagai pengawas, pemilik, pengendali, dan pengontrol. Karena itu, mekanisme pendapatan pengurus koperasi berbeda dengan karyawan perusahaan.
”Kegiatan koperasi kan kolektif kolegial dari masyarakat, mereka [pengurus] mendapatkan benefitnya bukan dari gaji. Gaji itu ngomongnya soal perusahaan, kalau kita ngomong koperasi itu ada benefitnya dari SHU,” kata dia ditemui usai mengunjungi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sobokerto, Ngemplak, Boyolali, Kamis (15/10/2026).
Joao juga menegaskan koperasi tidak sama dengan investasi yang berorientasi pada modal.
“Koperasi bukan investasi, berbeda dengan yang Anda bicarakan itu kan bicara kapitalis. Pengurus dapatnya dari SHU,” kata dia.
Adapun manajer KDMP akan berstatus PKWT dan menerima gaji dari Agrinas. Skema tersebut membedakan posisi manajer sebagai pegawai dengan pengurus koperasi yang memperoleh manfaat dari SHU.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas, menjelaskan keberadaan manajer ditujukan untuk membantu operasional koperasi desa. Meski demikian, koperasi tersebut pada dasarnya tetap menjadi milik masyarakat.
Menurut Zulhas, pembangunan KDMP beserta bangunan dan fasilitasnya mencapai Rp3 miliar dengan sumber dana dari dana desa. Karena itu, pengelolaan koperasi diharapkan memberikan manfaat bagi warga desa.
Ia menjelaskan manajer koperasi berstatus PKWT dari Agrinas dan akan bekerja di bawah perusahaan tersebut selama dua tahun sebelum pengelolaannya diserahkan kepada desa.
”Untuk gaji [manajer kopdes], selambat-lambatnya tanggal 1,” kata dia.
Zulhas Cek Fasilitas KDMP Sobokerto
Zulhas mengatakan kunjungannya ke KDMP Sobokerto dilakukan untuk memeriksa kesiapan koperasi desa yang tengah dikembangkan pemerintah.
“Hari ini kami bagi tugas untuk para menteri ke 107 koperasi, kami cek. Ada juga beredar kementerian lain, pangdam, bupati, gubernur, walikota. Saya waktu itu bikin surat edaran atas arahan Bapak Presiden untuk mengecek 10.070 koperasi selama 8 hari,” kata dia.
Ia mengapresiasi berbagai pihak yang ikut memeriksa kondisi koperasi di sejumlah daerah. Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan kerja keras. Sejumlah pejabat dan anggota timnya bahkan dilaporkan jatuh sakit selama menjalankan tugas.
”Menteri Desa keliling terus sampai sakit, jadi sekarang enggak boleh jauh-jauh. Tim saya masuk rumah sakit, tiga minggu dirawat, pada gempor. Kalau saya, meriang-meriang sedikit lah. Pak Menteri Kelautan pingsan, Pak Mentan jatuh. Kerja keras semua kami untuk memperbaiki keadaan agar rakyat lebih senang, maju, dan sejahtera,” kata dia.
Dalam kunjungan tersebut, Zulhas juga melihat sejumlah fasilitas di KDMP Sobokerto. Fasilitas yang tersedia antara lain bangunan koperasi, mobil, truk, mobil pikap, hingga kendaraan roda tiga.
”Pupuk juga sudah ada 10 ton, beras SPHP juga banyak, minyak goreng subsidi, beras, gas ada. Agen BNI46 juga ada, bisa bayar listrik, bisa ambil tunai, semua ada,” kata dia.
Zulhas mengakui pengembangan koperasi desa masih membutuhkan proses. Ia meminta masyarakat memberi waktu untuk pembenahan karena program tersebut tergolong baru.

Leave a Reply