FTIK UIN Saizu dan Baznas Banyumas Bahas Strategi Perluas Akses Pendidikan

FTIK UIN Saizu dan Baznas Banyumas Bahas Strategi Perluas Akses Pendidikan
Dekan FTIK UIN Saizu Purwokerto, Prof. Fauzi dan Ketua Baznas Kabupaten Banyumas, Khasanatul Mufidah hadir dalam dialog interaktif di RRI Pro 1 Purwokerto bertema Pemberian Beasiswa bagi Keluarga Kurang Mampu, Rabu (2/9/2026). (Istimewa)

Semarangtoday.com, PURWOKERTO-Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto mendorong semakin terbukanya akses pendidikan tinggi bagi masyarakat dari keluarga kurang mampu. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui penguatan informasi mengenai berbagai skema beasiswa dan bantuan biaya pendidikan.

Hal itu mengemuka dalam dialog interaktif di RRI Pro 1 Purwokerto bertema Pemberian Beasiswa bagi Keluarga Kurang Mampu, Rabu (2/9/2026). Dialog yang berlangsung pukul 12.00 WIB–13.00 WIB tersebut menghadirkan Dekan FTIK UIN Saizu Purwokerto, Prof. Fauzi dan Ketua Baznas Kabupaten Banyumas, Khasanatul Mufidah.

Dalam dialog tersebut, Prof. Fauzi menjelaskan bahwa akses pendidikan tinggi tidak semestinya terhambat oleh persoalan ekonomi. Perguruan tinggi memiliki sejumlah skema yang dapat dimanfaatkan calon mahasiswa maupun mahasiswa yang menghadapi keterbatasan kemampuan finansial.

Salah satu program yang dibahas adalah KIP Kuliah, program pemerintah yang sebelumnya dikenal sebagai Bidikmisi. Prof. Fauzi menegaskan bahwa calon penerima harus memenuhi persyaratan dan mengikuti mekanisme pendaftaran yang telah ditetapkan. “Program pemerintah, biyen jenenge Bidikmisi. Siki jenenge KIP Kuliah,” jelas Prof. Fauzi.

Selain KIP Kuliah, UIN Saizu Purwokerto juga memiliki skema pembiayaan melalui UKT level 1 atau Rp0. Dalam dialog disebutkan bahwa UKT level 1 di lingkungan PTKIN, termasuk UIN Saizu, berada pada rentang Rp0 hingga Rp400.000. Penerapannya tetap mengikuti ketentuan dan persyaratan yang berlaku.

Menurut Prof. Fauzi, berbagai skema pembiayaan tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan akses kepada masyarakat yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan tetapi menghadapi kendala ekonomi. “Masyarakat sing kepengin sekolah karena terhambat ekonomi, bisa dilayani. Itu namanya beri akses,” ujarnya.

Dalam dialog tersebut, Prof. Fauzi juga menjelaskan bahwa peluang beasiswa di perguruan tinggi tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa berdasarkan kondisi ekonomi. Mahasiswa dengan prestasi akademik maupun nonakademik juga memiliki kesempatan memperoleh dukungan pendidikan.

Prestasi akademik dapat berupa capaian dalam kompetisi seperti OSN. Sementara itu, prestasi nonakademik dapat berasal dari bidang olahraga, pencak silat, maupun prestasi lain di tingkat nasional dan internasional.

Menurut Prof. Fauzi, pemberian akses kepada mahasiswa berprestasi menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi membina generasi potensial agar tetap dapat mengembangkan prestasinya sekaligus memperoleh pendidikan formal hingga jenjang sarjana.

FTIK UIN Saizu Purwokerto mendorong semakin terbukanya akses pendidikan tinggi bagi masyarakat dari keluarga kurang mampu, salah satunya dilakukan melalui penguatan informasi mengenai berbagai skema beasiswa dan bantuan biaya pendidikan. (Istimewa)
FTIK UIN Saizu Purwokerto mendorong semakin terbukanya akses pendidikan tinggi bagi masyarakat dari keluarga kurang mampu, salah satunya dilakukan melalui penguatan informasi mengenai berbagai skema beasiswa dan bantuan biaya pendidikan. (Istimewa)

Peluang beasiswa juga tersedia bagi mahasiswa penghafal Al-Qur’an atau tahfiz. Calon penerima harus mengikuti proses seleksi serta melengkapi bukti atau surat keterangan dari pesantren maupun lembaga tahfidz sesuai ketentuan program.

Kolaborasi perguruan tinggi dengan lembaga zakat juga menjadi salah satu pembahasan penting. Prof. Fauzi menilai Baznas, lembaga amil zakat, lembaga sosial, dan institusi filantropi memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui dukungan pendidikan.

Dia menilai masyarakat tidak dapat hanya mengandalkan beasiswa pemerintah karena jumlah dan cakupannya terbatas. Keterlibatan BUMN, BUMD, perusahaan swasta, lembaga sosial, dan lembaga filantropi perlu terus diperkuat.

Dalam konteks UIN Saizu, dialog juga menyinggung keberadaan Program Studi Manajemen Zakat dan Wakaf (Mazawa) serta keterkaitannya dengan pengelolaan zakat dan program beasiswa. Salah satu program yang dibahas adalah Beasiswa Cendekia Baznas (BCB). Sementara itu, Baznas Banyumas memiliki Beasiswa Satria, program yang menyasar mahasiswa yang sudah menjalani perkuliahan.

Ketua Baznas Kabupaten Banyumas, Khasanatul Mufidah, menjelaskan bahwa mahasiswa yang telah berada di semester 4 dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh bantuan mulai semester 5 hingga selesai dengan mempertimbangkan aspek prestasi dan kondisi ekonomi.

Pada pelaksanaan perdana, tercatat 102 pendaftar. Setelah melalui proses seleksi, wawancara, dan survei, sebanyak 46 mahasiswa dinyatakan lolos. Sebagian pendaftar tidak memenuhi persyaratan, termasuk karena bukan warga Banyumas atau sudah berada pada semester akhir.

Dari 46 penerima Beasiswa Satria tersebut, penerima berasal dari sembilan perguruan tinggi. Salah satunya adalah UIN Saizu dengan 20 mahasiswa penerima. Baznas menanggung UKT penerima hingga menyelesaikan pendidikan sesuai ketentuan program.

Menariknya, program tersebut tidak membatasi penerima berdasarkan status perguruan tinggi negeri maupun swasta. Fokus utama penilaian adalah pemenuhan kriteria penerima bantuan.

Pertanyaan dari pendengar RRI juga menyoroti apakah bantuan Baznas hanya diperuntukkan bagi mahasiswa berprestasi. Menanggapi pertanyaan tersebut, Baznas menjelaskan bahwa program bantuan pendidikan memiliki sasaran yang beragam.

Mahasiswa yang tidak memiliki prestasi tinggi tetapi berada dalam kondisi ekonomi kurang mampu tetap dapat mengajukan bantuan. Namun, bentuk bantuan tidak selalu diberikan secara berkelanjutan setiap semester. Sebagian bantuan diberikan berdasarkan kebutuhan pada saat pengajuan.

Besarnya kebutuhan pendidikan masyarakat Banyumas menjadi salah satu tantangan. Baznas Kabupaten Banyumas menyebut permohonan bantuan pendidikan datang dari berbagai jenjang, mulai PAUD, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi.

Pada 2026, Baznas Kabupaten Banyumas mengalokasikan sekitar Rp1,5 miliar untuk bantuan masyarakat di bidang pendidikan di wilayah Kabupaten Banyumas. Anggaran tersebut harus menjangkau kebutuhan pendidikan yang beragam sehingga tidak seluruh bantuan dapat diberikan secara berkelanjutan.

Dialog juga membahas kondisi mahasiswa yang secara kasatmata terlihat mampu, tetapi keluarganya mengalami persoalan ekonomi. Prof. Fauzi menjelaskan bahwa perguruan tinggi tidak dapat mengetahui kondisi ekonomi tersembunyi mahasiswa tanpa adanya informasi atau laporan.

Karena itu, komunikasi antara mahasiswa, orang tua, dan kampus menjadi penting. Orang tua dapat menyampaikan perubahan kondisi ekonomi kepada kampus. Dalam lingkungan perguruan tinggi terdapat mekanisme banding atau pengajuan peninjauan UKT bagi mahasiswa yang mengalami perubahan kemampuan ekonomi.

Kondisi seperti usaha orang tua bangkrut, terkena PHK, mengalami kecelakaan permanen sehingga tidak lagi mampu bekerja, atau meninggal dunia dapat menjadi dasar pengajuan peninjauan maupun pengurangan UKT sepanjang memenuhi ketentuan dan dapat dibuktikan secara formal.

Pengajuan tersebut tidak otomatis diterima. Kampus tetap melakukan seleksi, klarifikasi, dan verifikasi sesuai aturan. Karena itu, dokumen administrasi menjadi bagian penting dalam proses pengajuan.

Hal serupa juga diterapkan Baznas. Dalam proses Beasiswa Satria, misalnya, calon penerima dapat diminta menunjukkan dokumen seperti Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Proses verifikasi dilakukan secara bertahap, mulai dari pemeriksaan administrasi hingga survei dan pengecekan silang dengan sekolah atau perguruan tinggi.

Persoalan lain yang muncul dalam dialog adalah distribusi informasi mengenai program beasiswa. Baznas Kabupaten Banyumas telah melakukan sosialisasi melalui berbagai saluran, antara lain media sosial, website, camat, UPAZ, serta dinas terkait.

Namun, masih terdapat wilayah yang belum mengirimkan pendaftar. Dari 27 kecamatan di Banyumas, disebutkan masih ada beberapa kecamatan yang belum memiliki pendaftar dalam program beasiswa yang dibahas.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyebaran informasi mengenai bantuan pendidikan masih perlu diperluas. Masyarakat yang memenuhi kriteria diharapkan tidak kehilangan kesempatan hanya karena tidak mengetahui informasi pendaftaran.

Prof. Fauzi juga mengingatkan mahasiswa dan calon mahasiswa untuk aktif mencari informasi melalui kanal resmi. Setiap program beasiswa memiliki jadwal, persyaratan, dan mekanisme pendaftaran yang berbeda.

Kesempatan memperoleh bantuan pendidikan juga tidak hanya berasal dari satu program. Selain KIP Kuliah dan skema yang tersedia di perguruan tinggi, terdapat berbagai program beasiswa dari lembaga lain.

Dalam dialog disebutkan sejumlah program, antara lain LPDP, Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB), serta sejumlah program beasiswa dari sektor perbankan seperti BI dan BSI.

Program-program tersebut memiliki sasaran dan persyaratan masing-masing. Sejumlah program Kementerian Agama, misalnya, tersedia untuk jenjang S1 hingga S3, termasuk peluang studi di luar negeri sesuai ketentuan program.

Prof. Fauzi menekankan bahwa seluruh kesempatan tersebut tetap harus ditempuh melalui prosedur dan seleksi. “Ada aturan mainnya, ikuti prosedurnya,” tegasnya. Bagi Baznas Kabupaten Banyumas, bantuan pendidikan tidak berhenti pada pembayaran biaya kuliah. Penerima Beasiswa Satria juga mendapatkan pembekalan untuk mengembangkan kapasitas diri.

Para penerima memperoleh pelatihan, antara lain public speaking, edukasi pencegahan narkoba bersama BNN, serta pembekalan mengenai penggunaan media sosial secara bijak. Baznas juga memberikan kesempatan kepada penerima untuk mengenal dunia filantropi dan usaha melalui pengalaman magang di lingkungan Baznas.

Program tersebut diarahkan agar penerima beasiswa tidak selamanya berada dalam posisi sebagai penerima bantuan. Setelah menyelesaikan pendidikan dan berhasil, mereka diharapkan mampu mandiri, mengembangkan usaha, dan pada akhirnya menjadi pihak yang dapat membantu masyarakat lainnya.

Dengan demikian, bantuan pendidikan diharapkan membentuk siklus kebaikan: mahasiswa yang hari ini memperoleh bantuan kelak dapat berhasil dan menjadi muzakki yang turut membantu masyarakat lain.

Prof. Fauzi mengajak masyarakat Banyumas dan sekitarnya untuk tidak kehilangan harapan dalam mengejar pendidikan tinggi. Keterbatasan ekonomi, menurutnya, tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti bermimpi melanjutkan pendidikan.

Berbagai jalur beasiswa dan bantuan pendidikan telah tersedia. Namun, calon penerima harus aktif mencari informasi, memenuhi persyaratan, dan mengikuti proses seleksi sesuai ketentuan.

Pendidikan, lanjutnya, bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga zakat, lembaga sosial, dan masyarakat memiliki peran yang sama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Sementara itu, Ketua Baznas Kabupaten Banyumas menegaskan bahwa kebutuhan bantuan pendidikan masyarakat masih sangat besar. Permohonan datang dari berbagai jenjang pendidikan dan menghadapi persoalan yang beragam, termasuk tunggakan biaya pendidikan hingga kebutuhan biaya kuliah.

Karena itu, partisipasi masyarakat melalui zakat, infak, dan sedekah dinilai penting untuk memperkuat kemampuan Baznas menjalankan program sosial dan pendidikan.

Sinergi antara FTIK UIN Saizu, Baznas, pemerintah, dunia usaha, lembaga sosial, dan masyarakat diharapkan dapat semakin membuka akses pendidikan tinggi. Bagi keluarga kurang mampu, berbagai jalur pembiayaan tersebut menjadi peluang untuk tetap melanjutkan pendidikan dan mewujudkan cita-cita hingga perguruan tinggi.

Pesan utama dari dialog tersebut sederhana: keterbatasan ekonomi tidak seharusnya mematikan mimpi untuk kuliah. Selama calon mahasiswa aktif mencari informasi, memenuhi persyaratan, mengikuti prosedur, dan memanfaatkan jalur yang tersedia, peluang untuk mengakses pendidikan tinggi tetap terbuka. (NA)

Leave a Reply