Puluhan Rumpon Kerang Hijau di Tambakrejo Semarang Gagal Panen, Nelayan Merana

Puluhan Rumpon Kerang Hijau di Tambakrejo Semarang Gagal Panen, Nelayan Merana
Penampakan rumpon yang dibangun oleh warga Tambakrejo Semarang. (Daerah/Fitroh Nurikhsan)

Semarangtoday.com, SEMARANG — Nelayan di pesisir Kampung Tambakrejo, Kota Semarang, harus menelan pil pahit setelah rumpon budi daya kerang hijau mereka dipastikan gagal panen. Seharusnya, September mendatang merupakan musim panen raya bagi nelayan tradisional yang membudidayakan kerang hijau melalui rumpon. 

Nelayan menduga tidak tumbuhnya kerang hijau disebabkan arus laut tertutup pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak. Perubahan arus tersebut membuat air di sekitar rumpon menjadi keruh sehingga embrio kerang hijau sulit menempel dan berkembang.

Salah satu nelayan Tambakrejo, Marzuki, menyebut ada sekitar 30 rumpon milik warga Tambakrejo yang gagal panen tahun ini. Rumpon yang tidak menghasilkan tersebut berada di dekat pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak.

“Tahun ini hitungannya gagal panen, biasanya akhir Agustus atau awal September sudah mulai panen kerang kecil-kecil, tetapi pas ditengok teman-teman tidak ada,” ujar Marzuki kepada Espos, Minggu (30/8/2026). 

Menurut Marzuki, warga pesisir Tambakrejo mulai mencoba menggantungkan hidup dengan budi daya kerang hijau sejak 2016. Budi daya itu bahkan menjadi cara mereka bertahan mencari penghasilan di laut setelah ruang tangkap nelayan tradisional semakin terbatas karena harus bersaing dengan nelayan yang memiliki peralatan lebih canggih.

Sejak pembangunan Tol Laut Semarang-Demak, Marzuki mengaku nelayan mulai mengeluhkan hasil budi daya kerang hijau menurun. Perubahan arus membuat air di sekitar rumpon tidak lagi bergerak dengan baik dan cenderung keruh.

“Gelombangnya cenderung memantul, akhirnya di sekitar tanggul laut itu airnya keruh terus dan tidak bisa jernih. Sudah tidak ada arus, airnya malah keruh terus, embrio kerang hijau nggak bisa menempel dan hidup di situ,” paparnya. 

Musim panen raya kerang hijau di Kampung Tambakrejo berlangsung September hingga Januari. Dalam kondisi normal, nelayan bisa mengambil kerang hijau yang tertempel di rumpon sehari paling banyak sekitar 50 kilogram hingga satu kuintal. 

Tanggul Tol Laut

“Ada 30 rumpon, termasuk milik saya, yang gagal panen karena lokasinya dekat tanggul tol laut. Yang rumponnya di muara masih bagus, mereka bisa panen raya,” terangnya. 

Di perairan Tambakrejo, setidaknya ada 50 rumpon untuk budi daya kerang hijau. Dia berharap pembangunan apa pun di kawasan pesisir harus memperhatikan keberlanjutan hidup nelayan yang mencari nafkah di laut. 

Akademisi sekaligus pemerhati isu pesisir dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Mila Karmilah, menyatakan turut mengamati dampak proyek tanggul laut terhadap masyarakat pesisir.

Kesulitan mencari kerang hijau juga dirasakan nelayan di pesisir Bedono, Kabupaten Demak, karena kawasan perairannya turut tertutup proyek tanggul laut. “Untuk membuat rumpon kerang hijau, air tidak boleh tertutup, tetapi harus bergerak antara air payau dan air laut,” ungkap Milla. 

Mila menilai budi daya kerang hijau di perairan lepas membutuhkan perputaran air secara terus-menerus agar dapat tumbuh di rumpon. Dengan kondisi tersebut, kerang hijau dapat berkembang dengan baik.

Lebih lanjut, ia menegaskan tidak menolak berbagai pembangunan di kawasan pesisir, termasuk rencana Giant Sea Wall maupun reklamasi. Namun yang perlu diperhatikan dalam pembangunan tersebut harus secara partisipatif memperhatikan ruang hidup masyarakat pesisir. 

Jika pembangunan di kawasan pesisir tidak mempertimbangkan kondisi masyarakat, yang hilang bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga ruang hidup mereka. Kondisi tersebut sudah banyak terjadi di pesisir Kabupaten Demak.

“Dulu di Desa Bedono, Demak, itu ada tujuh dukuh, sekarang tinggal tiga dukuh karena empat dukuhnya sudah hilang. Kenapa hilang? Karena ada perubahan arus akibat reklamasi oleh pelabuhan sehingga menghilangkan kawasan-kawasan itu,” tandas Mila. 

Leave a Reply