Muktamar ke-35 NU: Begini Alur AHWA Menentukan Rais Aam PBNU

Muktamar ke-35 NU: Begini Alur AHWA Menentukan Rais Aam PBNU
Penasihat Panitia Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Anggota Komisi Organisasi M. saat ditemui di kawasan Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Minggu (30/8/2026). Bisnis-Julianus Palermo

Semarangtoday.com, JOMBANG – Penasihat Panitia Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Anggota Komisi Organisasi M. Romahurmuziy memaparkan mekanisme pemilihan melalui sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) untuk menentukan Rais Aam PBNU periode mendatang.

Romahurmuziy menjelaskan panitia masih harus melakukan tabulasi terhadap usulan nama dari ratusan utusan PWNU, PCNU, dan PCINU. Proses tersebut dilakukan untuk menjaring sembilan nama kiai yang akan menjadi anggota AHWA.

“Kita masih harus ada tabulasi di calon Ahlul Halli wal Aqdi nanti menghitung sembilan nama dari 552 utusan itu kan banyak sekali bisa makan waktu 4-5 jam lagi gitu. Belum lagi calon ketua umum nanti lima nama yang dimasukkan,” ujar Romahurmuziy, Minggu (30/8/2026).

Setelah sembilan nama anggota AHWA ditetapkan, para kiai tersebut akan bermusyawarah secara tertutup untuk menentukan Rais Aam PBNU periode mendatang.

Musyawarah akan digelar di kediaman salah satu muassis atau pendiri NU, KH Wahab Hasbullah, yang berada tak jauh dari arena sidang pleno Muktamar ke-35 NU.

“Nanti setelah mereka ditetapkan sebagai AHWA, sembilan nama ini para kiai yang kita hormati bersama akan bermusyawarah untuk memilih salah satu dari mereka menjadi Rais Am. Musyawarahnya akan dilakukan di dalam kasepuhan itu adalah rumah pribadi Almaghfurlah Kiai Wahab Hasbullah, kebetulan kakek buyut kami sendiri, dan mereka akan diberikan waktu untuk menetapkan siapa di antara sembilan itu menjadi Rais Am,” tuturnya.

Tiga Kriteria Anggota AHWA

Romahurmuziy meyakini para muktamirin telah memiliki pertimbangan matang dalam mengusulkan kiai yang dinilai layak duduk di forum AHWA.

Menurut dia, rekam jejak pengabdian dan kealiman menjadi pertimbangan utama dalam menentukan anggota AHWA.

“Saya meyakini bahwa setiap cabang dan wilayah sudah bisa menilai mana kiai-kiai yang memang layak untuk menjadi Ahwa dan dari muktamar ke muktamar saya sudah mengikuti beberapa muktamar di NU, semuanya membuktikan bahwa yang selalu dipilih oleh para muktamirin adalah para kiai sepuh yang alim allamah ya, yang memang mereka memiliki track record yang sudah teruji selama ini pengabdiannya di Nahdlatul Ulama,” ungkapnya.

Saat ditanya mengenai nama-nama ulama yang berpeluang masuk dalam jajaran AHWA, dia menyebut sejumlah kiai senior dari berbagai daerah, antara lain Kiai Nurul Huda, Kiai Miftach, Kiai Kafabi, Kiai Anwar Mansyur, dan Kiai Walid Zahri dari Aceh.

Menurut Romahurmuziy, terdapat tiga kriteria utama yang menjadi pertimbangan dalam memilih anggota AHWA.

Pertama, kiai tersebut harus merupakan sosok sepuh yang memiliki pengalaman, kealiman, serta rekam jejak pengabdian yang panjang di NU.

Kedua, keterwakilan wilayah juga menjadi pertimbangan. Selain Pulau Jawa, anggota AHWA diharapkan mewakili wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah lainnya.

“Pertama sepuh ya karena memang jam terbang itu tidak bisa dibeli ya mereka adalah yang sudah selama ini diakui kealimannya, pengabdiannya. Yang kedua mewakili seluruh wilayah di Indonesia. Dari Pulau Jawa tentu paling banyak karena memang jumlah penduduk terbanyak ada di Pulau Jawa. Dari Sumatera, dari Kalimantan, dari Sulawesi, itu semua akan insyaallah terwakili di dalam akhwat,” paparnya.

Kriteria ketiga adalah pemahaman mengenai tata kelola organisasi dan wawasan mengenai kebutuhan NU ke depan.

Menurut dia, anggota AHWA tidak hanya harus memiliki kapasitas sebagai ulama, tetapi juga memahami organisasi secara struktural serta memiliki pandangan mengenai masa depan jam’iyah.

“Yang kedua adalah mereka-mereka yang selama ini secara struktural juga merupakan pengurus di lingkungan Nahdlatul Ulama. Apakah di tingkat PB pengurus besar, apakah di tingkat wilayah begitu yang menunjukkan bahwa mereka bukan hanya sekedar ulama, tapi mereka paham organisasi. Dan yang ketiga tentu yang memiliki cukup wawasan untuk meilhat kebutuhan NU ke depan,” tambahnya.

Romahurmuziy meyakini mekanisme AHWA yang menitikberatkan pada peran para masyaikh dapat membuat hasil Muktamar ke-35 NU diterima seluruh elemen Nahdliyin.

“Kalau itu yang terjadi dengan AHWA maka insyaallah siapa pun yang menang tidak akan meninggalkan luka karena yang memilih adalah para masyaikh, bukan muktamirin,” ucap dia.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Muktamar Ke-35 NU: Komisi Organisasi Ungkap Alur Tabulasi hingga Musyawarah AHWA dalam Menentukan Rais Aam PBNU

Leave a Reply