BPPTKG Belum Rekomendasikan Pendakian Gunung Merapi, Ini Alasannya

BPPTKG Belum Rekomendasikan Pendakian Gunung Merapi, Ini Alasannya
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso saat memaparkan aktivitas Gunung Merapi di Ruang Merbabu Kantor Bupati Boyolali, Kamis (16/7/2026). (Daerah/Ni’matul Faizah)

Semarangtoday.com, BOYOLALI—Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menegaskan belum dapat merekomendasikan pembukaan jalur pendakian Gunung Merapi. Aktivitas erupsi yang masih tinggi, ancaman awan panas, hingga potensi lontaran material vulkanik dinilai masih membahayakan keselamatan pendaki.

Penegasan tersebut disampaikan Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, saat Rapat Koordinasi Penanganan Pendakian Ilegal di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) di Kantor Bupati Boyolali, Kamis (16/7/2026).

Agus mengatakan ancaman erupsi Gunung Merapi masih sangat tinggi. Berdasarkan catatan BPPTKG, erupsi besar Merapi pada 2010 menyebabkan hampir 400 orang meninggal dunia dan kerugian mencapai triliunan rupiah. Sementara dalam dua abad terakhir, korban jiwa akibat erupsi Merapi tercatat mendekati 2.000 orang.

“Status siaga, apalagi erupsi, artinya tidak boleh mendekati puncak. Yang artinya juga tidak boleh adanya pendakian. Jadi Merapi sedang ada erupsi, awan panas dan guguran setiap hari,” kata Agus.

Menurut dia, aktivitas Gunung Merapi sulit diprediksi karena arah maupun tipe erupsinya dapat berubah sewaktu-waktu. Kondisi tersebut membuat risiko bagi pendaki tetap tinggi meski aktivitas gunung terlihat relatif tenang.

Ancaman Awan Panas dan Lontaran Material

BPPTKG mencatat suplai magma dari dalam Gunung Merapi masih berlangsung intensif. Aktivitas tersebut ditandai dengan frekuensi gempa vulkanik yang mencapai lebih dari 50 kali per hari, jauh di atas kondisi normal yang hanya sekitar lima kali per hari.

Selain itu, deformasi atau pengembangan tubuh gunung juga masih terus terjadi sebagai indikasi adanya tekanan magma dari dalam bumi.

Agus menjelaskan ancaman utama saat ini berasal dari potensi runtuhan kubah lava yang dapat memicu awan panas guguran hingga sejauh 7 kilometer ke arah barat daya dan sekitar 5 kilometer ke arah tenggara.

Selain awan panas, BPPTKG juga mewaspadai potensi erupsi eksplosif yang dapat melontarkan material vulkanik hingga radius sekitar 3 kilometer dari puncak.

Ia mencontohkan erupsi freatik pada 11 Mei 2018 ketika sekitar 150 pendaki berada di kawasan Pasar Bubrah. Saat itu seluruh pendaki selamat karena kolom erupsi bergerak ke arah selatan.

“Kebetulan kolom erupsi freatik menuju ke arah selatan. Sehingga para pendaki selamat. Namun, kita tidak bisa selalu mengandalkan keberuntungan. Tidak selalu kolom erupsi mengarah ke selatan,” ujarnya.

Menurut Agus, erupsi freatik tidak dapat diprediksi secara pasti sehingga keselamatan pendaki menjadi pertimbangan utama BPPTKG.

“Kesimpulannya, kami belum bisa merekomendasikan pendakian sampai puncak Gunung Merapi karena masih ada potensi bahaya lontaran dari erupsi eksplosif,” tegasnya.

Leave a Reply