OJK Solo Soroti Kredit Macet, Sektor Non-UMKM Jadi Penyumbang Tertinggi

OJK Solo Soroti Kredit Macet, Sektor Non-UMKM Jadi Penyumbang Tertinggi
Jumpa pers Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo mengenai update perkembangan sektor jasa keuangan Soloraya periode April 2026 di salah satu restoran di Solo, Kamis (11/6/2026). (Daerah/Dhima Wahyu Sejati)

Semarangtoday.com, SOLO — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat angka kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gabungan industri perbankan di wilayah Soloraya masih berada di level yang cukup tinggi. Dalam hal ini, sektor non-UMKM menjadi penyumbang tertinggi.

Kepala Bagian Pengawasan LJK 3 Kantor OJK Solo, RM Randi Pratama, mengatakan rasio NPL di wilayah aglomerasi Soloraya tercatat masih berada di atas rata-rata nasional. 

Meski demikian, ia menyebut mulai ada tren perbaikan kinerja jika dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya.

“Jadi memang [NPL] di Soloraya ini masih cukup tinggi ya kalau dibanding rata-rata nasional. Tapi kalau kita lihat secara year on year posisi April 2025 dibandingkan dengan 2026, NPL di April 2025 itu ada di angka 10,24 persen, yang mana ada perbaikan di April 2026 itu menjadi 9,81 persen,” kata Rendi dalam paparannya saat jumpa pers OJK di Solo, belum lama ini.

Rendi menjelaskan lebih terperinci tingginya angka NPL di Soloraya tersebut sangat dipengaruhi oleh macetnya pengembalian dana dari sektor-sektor usaha menengah hingga korporasi besar yang penyaluran kreditnya hingga Rp5 miliar. 

“Kalau kita lihat dari jenis usahanya, penyumbang NPL tertinggi itu ada di sektor bukan UMKM, jenis usaha bukan UMKM dengan NPL di angka 12,45 persen, yang dilanjutkan tertinggi keduanya itu dari jenis usaha UMKM menengah di angka 10,51 persen,” paparnya.

Selain dari jenis usaha, ia membeberkan tingginya angka NPL juga terlihat jelas berdasarkan jenis penggunaan kreditnya. Penyaluran kredit untuk sektor investasi dan modal kerja mendominasi rasio kredit macet, sementara kredit konsumsi justru tergolong paling aman dan lancar.

“Dari imbas NPL-nya, kredit jenis investasi ini menyumbang NPL tertinggi yaitu di angka 13,04 persen. Kemudian untuk sektor modal kerja karena memang tingkat NPL-nya juga masih cukup tinggi di angka 12,47 persen. Kalau dari konsumsi itu NPL-nya cukup rendah di angka 2,05 persen,” urainya.

Tingginya angka kredit macet tersebut, kata Rendi, berdampak langsung pada keengganan perbankan untuk menyalurkan pembiayaan baru. 

Bank-bank di wilayah Soloraya terindikasi sedang sangat berhati-hati dan memilih menahan dana likuiditas mereka agar rasio NPL tidak semakin membengkak.

“Dari indikator sini menggambarkan bahwa lembaga industri perbankan itu sedang mengencangkan ikat pinggang kurang lebihnya. Hal ini dikarenakan tingkat nonperforming loan yang memang cukup tinggi,” kada Rendi.

Leave a Reply