Ikhtiar Tukang Bubur, UKM Kerupuk, dan Pedagang Es untuk Bisa Menuju Tanah Suci

Ikhtiar Tukang Bubur, UKM Kerupuk, dan Pedagang Es untuk Bisa Menuju Tanah Suci
Pasangan suami-istri (Pasutri) asal Dukuh Plosokerep, Desa Winong, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali yang bekerja sebagai penjual jamu tradisional di Pasar Sunggingan akan berangkat haji pada 2026 ini. (Tim Espos)

Semarangtoday.com, BOYOLALI – Kisah seperti dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji benar-benar terjadi di dunia nyata. Belasan tahun menabung dari hasil berjualan jamu, berjualan kerupuk, dan berjualan es gosrok, tiga pelaku UMKM asal Soloraya ini akhirnya menjemput panggilan haji, dengan dibantu oleh nilai manfaat yang membuat mimpi mereka menjadi nyata. 

Pasangan suami-istri (Pasutri) asal Dukuh Plosokerep, Desa Winong, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali yang bekerja sebagai penjual jamu tradisional di Pasar Sunggingan akan berangkat haji pada 2026 ini. Mereka adalah Hadi Wiyono, 63, dan Sutiyah, 55. Keduanya telah mendaftar haji sejak November 2012 kemudian dipanggil untuk berangkat ke Tanah Suci pada 2026 ini. Mereka direncanakan berangkat pada 10 Mei 2026.

Suara alu dan lumpang terdengar di dapur milik pasangan calon haji (calhaj) tersebut saat Espos menyambangi rumah mereka, Senin (6/4/2026) siang. Mereka yang bekerja sebagai penjual jamu tradisional sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk diolah menjadi jamu.
Berjibaku dengan tungku berbahan bakar kayu dan sejumlah tanaman rimpang setiap hari dengan penampilan sederhana membuat tak banyak orang menyangka mereka adalah calon haji.

Hadi Wiyono mengatakan kegiatan tersebut dilakoni setiap hari tanpa henti. Jualan jamu hanya berhenti ketika memang ada keperluan keluarga.

“Istri tidur biasanya sehabis Isya, saya juga kecuali Senin malam dan Kamis malam soalnya ada undangan. Tidur ya jam 23.00 WIB, bangun pukul 01.30 WIB lalu ya mulai siap-siap jualan, terus berangkat ke pasar pukul 03.30 WIB,” kata dia berbincang dengan Espos di rumahnya.
Setelah itu, mereka akan berjualan jamu di sisi utara Pasar Sunggingan Boyolali. Istrinya, Sutiyah, akan berkeliling mencari pembeli di dalam pasar sedangkan ia akan menunggu pelanggan di lapak sementara itu.

“Nanti pulang dari pasar sekitar pukul 08.00 WIB. Sehabis pulang yang membersihkan rumah atau beraktivitas lain,” kata dia.

Ia mengatakan awalnya tidak membantu sang istri berjualan jamu. Awalnya bekerja di sebuah pabrik pembuatan abon di Winong. Melihat istrinya yang kepayahan, ia kemudian fokus membantu istri.

“Sudah lebih dari 30 tahun kami berjualan jamu tradisional bersama. Tapi sebelumnya, istri sudah berjualan jamu karena ibunya memang berjualan jamu di pasar,” kata dia.

Mendaftar Haji

Ia mengatakan keinginannya untuk menunaikan ibadah haji muncul secara tiba-tiba. Setelah berkomunikasi dengan sang istri, ia pun menyampaikan niat untuk mendaftar nomor porsi haji. Lalu, bersama sang istri, ia mulai mengumpulkan dana untuk mendaftar nomor porsi haji.

“Akhirnya saya mengumpulkan uang, misal ada uang Rp3.000 sehari ya disimpan, terus misal Rp5.000 per hari ya langsung disimpan. Nanti nunggu sebulan baru ditabung. Niatnya madep-mantep untuk berhaji,” kata dia.

Ia tak ingat betul sejak kapan mulai menabung karena menabung telah menjadi kebiasaan mereka sehari-hari. Barulah pada November 2012 ia dan istrinya mendapatkan cukup dana untuk mendaftar nomor porsi haji.

Sutiyah mengatakan baik suaminya dan dirinya menabung sendiri-sendiri. Sang suami menabung untuk dana haji sedangkan ia menabung untuk biaya kehidupan sehari-hari dan sekolah anak. Ia juga menabung dalam bentuk emas.

“Jadi bapak fokusnya menabung untuk haji dan uang sakunya, dua orang. Sedangkan saya menabung untuk kebutuhan rumah, kalau membeli beras, membeli dan lain-lain,” kata dia.

Sutiyah sendiri tak pernah menyangka ia akan pergi haji. Ia adalah seorang yang buta huruf dan tidak bersekolah karena sejak kecil mengurus adik-adiknya. Ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya harus mencari uang. Sedangkan, sang suami pernah mengenyam pendidikan akan tetapi tak lulus.

“Bapak [Hadi Wiyono] bisa baca tulis Indonesia dan Arab, kalau saya enggak bisa. Sebelum berangkat itu saya tanya ustaz saya kan tidak bisa membaca, semua serbahafalan, apakah boleh berhaji. Ustaz menjawab kalau Allah tahu seluruh bahasa, akhirnya saya mantab dan tenang beribadah,” kata dia.

Ia mengatakan doa-doa saat haji juga ia hafalkan dibantu sang suami setiap salat. Mereka juga sering mengikuti manasik haji baik teori dan praktik. Ibu tiga anak itu menceritakan.

Seusai dipanggil untuk berhaji, ia mengatakan harus melakukan pelunasan biaya perjalanan ibadah haji sekitar Rp50 juta untuk dua orang. Uang tersebut didapat dari tabungan emasnya dan tabungan ternak Hadi Wiyono.

Seharusnya, calon jemaah haji tahun ini harus membayar sekitar Rp87,4 juta untuk biaya penyelenggaraan ibadah haji. Namun Jemaah hanya perlu membayar biaya perjalanan ibadah haji sekitar Rp54,1 juta.

Manfaat Pengelolaan Biaya dan Dana Haji

Berdasarkan data transparansi yang dikutip dari laman Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), biaya penyelenggaraan ibadah haji senilai RpRp87,4 juta.

Namun calon Jemaah haji rata-rata hanya diwajibkan membayar sekitar Rp54 juta untuk biaya perjalanan ibadah haji, dan masih dipotong dari setoran awal pendaftaran nomor porsi senilai Rp25 juta. Sisanya, sekitar Rp33 juta, diambil dari manfaat pengelolaan biaya dan dana haji yang yang dilakukan BPKH. Nilai manfaat dana haji itu didapatkan dari hasil pengembangan keuangan haji melalui penempatan dan dan investasi yang dilakukan BPKH.

Jadi, dana senilai Rp25 juta saat calon jemaah mendaftar nomor porsi haji bukan hanya aman dan utuh, namun juga berkembang melalui penempatan dan investasi yang dilakukan BPKH.

Jika sudah mendaftar nomor porsi Rp25 juta, maka calon jemaah haji hanya perlu melunasi sekitar Rp29 juta. Ini menunjukkan pengelolaan dana haji BPKH bukan hanya aman dan amanah, namun juga berkembang sehingga memiliki nilai manfaat bagi calon jemaah haji.

Di sisi lain Boyolali, tepatnya di Dukuh Gledegan, Desa Kopen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, ada pula pasutri calon jemaah haji yang mantap berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Mereka adalah pedagang kerupuk, Khotib Heru Ukhrodin, 50, dan Nur Witri, 49.

Pada 2012 lalu, Khotib mantap menyetorkan biaya haji 25 juta untuk mendapatkan nomor porsi dan mempercayakan pengelolaan dana haji kepada BPKH dengan harapan kelak bisa berangkat haji dengan biaya yang ringan.

“Alhamdulillah dari berjualan kerupuk, saya bisa mendaftar haji pada November 2012. Itu menabung uangnya ya saat itu masih jaya-jayanya usaha, menyisihkan laba beberapa tahun lalu bisa untuk mendaftar haji,” jelas dia.

Pria tiga anak tersebut mengatakan istrinya baru mendaftar haji pada 2017 setelah uangnya terkumpul. 
Khotib mengaku sempat menjadi jemaah haji cadangan pada 2025. Namun, karena tidak bisa membawa sang istri, ia mengurungkan niatnya. Akhirnya, pada 2026 ini bisa menarik istrinya masuk ke nomor porsi keluarga.
Saat dipanggil untuk berangkat haji, Khotib mengatakan tidak kaget terlebih masalah keuangan. Ia telah menyiapkan uang sejak mendaftar.

“Alhamdulillah, dua orang saya dan istri itu membayar total sekitar Rp53 juta. Harusnya lebih karena per orang hampir Rp87 juta. Kemarin kami membayar Rp25 juta dan pelunasan sekitar Rp26 juta. Lalu, dijelaskan oleh pihak BSI itu ada yang dibayarkan dari nilai manfaat,” kata dia.

Khotib menyampaikan rasa senangnya karena merasa diringankan dengan nilai manfaat yang ia dapatkan berkat pengelolaan dana haji yang transparan dan berkembang yang dilakukan BPKH.

Selanjutnya, ia bersama istri telah mempersiapkan diri untuk berangkat haji baik fisik, mental, dan ilmu.
“Latihannya tentu olahraga seperti senam dan jalan kaki. Terus juga jalan-jalan di sirkuit. Ya latihan di sela-sela jualan. Saya jualan di Pasar Ponggok tiap Pahing dan Kliwon. Kateguhan itu Wage sama Legi, di Kaliwungu pasaran Pon,” kata dia.

Sesuai Nomor Porsi

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Boyolali, Sauman, mengatakan pada 2026 ada 945 calon haji (Calhaj) Boyolali. Terdiri dari 940 calhaj reguler dan lima orang petugas haji daerah (PHD).

“Sebenarnya untuk reguler ada 941 orang, akan tetapi baru mendapatkan kabar untuk calon haji dari Andong ada yang meninggal. Dan yang naik porsi haji belum tentu warga Boyolali, tapi yang memang sesuai nomor porsi tunggunya,” kata dia.

Ia mengatakan total nantinya 945 calhaj dari Boyolali akan terbagi menjadi lima kelompok terbang (kloter) yaitu 55, 56, 57, 58, dan sapu jagad 81.
Kloter 55 ada 180 orang dan menyambung calhaj dari Wonogiri. Untuk kloter 56 dan 57 utuh 354 masing-masing. Lalu, kloter 58 ada 43 calhaj asal Boyolali. Kemudian, ada cadangan yang naik di regional Jawa Tengah yaitu 10 orang dan masuk kloter 81 bersama kabupaten/kota lain.

“Kloter 55 dan 56 berangkat dari Boyolali pada 9 Mei 2026 masuk ke Asrama Haji Donohudan. Lalu, kloter 57 dan 58 pada 10 Mei 2026 masuk Asrama Haji. Untuk kloter 81 direncanakan seusai edaran itu 20 Mei. Tahun ini, di AHD Boyolali hanya untuk Jawa Tengah, Yogyakarta sudah sendiri di Kulonprogo,” kata dia.

Ia mengatakan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 34 Tahun 2025 tentang BPIH Tahun 1447 Hijriah yang bersumber dari Biaya Perjalanan Ibadah Haji dan Nilai Manfaat. Terhitung BPIH atau Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji sebesar Rp86.448.981 dari Embarkasi Solo.

“Untuk Bipih atau Biaya Perjalanan Ibadah Haji di Embarkasi Solo 53.233.422. Untuk setoran awal kan semua sama Rp25 juta, pelunasan Rp25.559.215 per jemaah. Nah, sisanya itu dibayar dari nilai manfaat dana haji yang dikelola BPKH,” kata dia.

Tambah Berkah

Seorang pedagang es gosrok asal Dukuh Padasan, Desa Gununggajah, Kecamatan Bayat, Klaten, bernama Nur Supandi akan berangkat haji tahun ini. (Tim Espos)
Seorang pedagang es gosrok asal Dukuh Padasan, Desa Gununggajah, Kecamatan Bayat, Klaten, bernama Nur Supandi akan berangkat haji tahun ini. (Tim Espos)

Kisah perjuangan untuk bisa ke Tanah Suci juga hadir dari seorang pedagang es gosrok asal Dukuh Padasan, Desa Gununggajah, Kecamatan Bayat, Klaten, bernama Nur Supandi.

Pria berusia 58 tahun itu ikhtiar mengumpulkan biaya untuk berangkat menunaikan ibadah haji sekaligus menghidupi kelima anaknya hingga ada yang bisa menempuh pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi. Bukan jalan yang mudah tentunya. 
 
Namun satu per satu doanya terwujud. Tahun ini dia akan berangkat ke Tanah Suci, meski kini kondisi tubuhnya sedang mengalami sakit stroke.  

“Semuanya itu Qadarullah [ketatapan Allah],” kata Nur Supandi saat ditemui Espos di Kecamatan Bayat, Rabu (15/4/2026).

Nur mendaftar haji pada Desember 2012 silam. Tekadnya bisa menunaikan rukun Islam kelima bermula dari pesan ibu. “Le nak duwe duit, kowe daftaro kaji le, ben tambah barokah [Nak, kalau memiliki uang, kamu mendaftar haji biar tambah berkah],” kata Nur menirukan pesan ibunya.

Termotivasi dari pesan sang ibunda, Nur kemudian mendaftar. Dia juga menjadi salah satu calon jemaah Motivasi itu pula yang menguatkan Nur untuk terus tekun menabung dari hasil jualan selain membiayai kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply