NGAWI – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Kelompok 95 membangun kandang tikus sebagai cadangan pakan burung hantu Tyto alba di kawasan persawahan Desa Dempel, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi. Program yang dilaksanakan bersama perangkat desa, kelompok tani, dan pengelola penangkaran Tyto alba ini menjadi upaya konkret untuk memperkuat pengendalian hama tikus sawah secara alami tanpa bergantung pada bahan kimia.
Bagi petani di Desa Dempel, musim tanam selalu datang bersama satu kekhawatiran yang sama. Tikus sawah. Hama ini menyerang tanpa pandang musim dan menggerogoti hasil panen dalam jumlah yang tidak sedikit. Kerugian datang berulang setiap tahun, dan selama ini solusi yang paling mudah dijangkau adalah pestisida dan rodentisida kimia. Cara itu memang cepat, tetapi dampaknya terhadap tanah, air, dan makhluk hidup lain di ekosistem sawah terlalu mahal untuk diabaikan.
Sebenarnya, Desa Dempel sudah punya solusi alami yang lebih bijak. Di kawasan persawahan desa, terdapat penangkaran burung hantu Tyto alba yang berfungsi sebagai predator alami tikus. Satu ekor Tyto alba dewasa mampu memangsa beberapa ekor tikus dalam semalam, menjadikannya pengendali hama yang efektif dan ramah lingkungan. Namun, ada satu persoalan yang mengganjal. Anakan Tyto alba yang belum mampu berburu sendiri sangat bergantung pada pasokan pakan segar. Ketika musim panen tiba dan populasi tikus di sawah menyusut karena bersembunyi, ketersediaan pakan alami ikut berkurang. Tanpa cadangan pakan yang memadai, kelangsungan hidup anakan burung hantu ini terancam.
Pengelola penangkaran Tyto alba di Desa Dempel menjelaskan tantangan yang selama ini dihadapi. “Burung hantu, terutama yang masih muda dan belum bisa berburu sendiri, harus mendapatkan pakan yang benar-benar segar dan hidup. Mereka tidak bisa makan bangkai, sifat alaminya menuntut mangsa yang masih bergerak. Sebelum ada kandang tikus ini, kami terpaksa memberi makan anakan burung hantu dengan ikan lele segar. Meski efektif, biayanya cukup besar dan tidak efisien untuk jangka panjang,” ungkapnya.
Berangkat dari persoalan itulah KKN UNS 95 mengambil langkah. Setelah melakukan observasi dan wawancara mendalam bersama pengelola penangkaran dan kelompok tani, mahasiswa merancang dan membangun kandang tikus di area penangkaran sebagai sumber pakan cadangan. Kandang ini didesain sederhana namun fungsional agar bisa dioperasikan dan dirawat secara mandiri oleh warga. Dengan adanya kandang tikus, pengelola tidak lagi bergantung pada ikan lele yang biayanya besar, dan pasokan pakan alami bagi anakan Tyto alba tetap terjamin meskipun populasi tikus di sawah sedang berkurang.

Selain membangun kandang, mahasiswa juga menggelar sosialisasi tentang pentingnya pengendalian hama berbasis ekosistem. Materi disampaikan secara interaktif disertai sesi diskusi dan praktik langsung yang mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Kelompok tani dilibatkan langsung dalam proses pembuatan kandang sehingga mereka memiliki pengalaman praktis untuk merawat dan mengembangkannya secara mandiri di kemudian hari.
Satu unit kandang tikus kini berdiri di area penangkaran, siap menampung cadangan pakan ketika musim sulit datang. Di balik konstruksi sederhana dari bata ringan itu tersimpan satu prinsip yang sering dilupakan dalam pertanian modern, bahwa menjaga keseimbangan ekosistem bisa menjadi cara paling efektif untuk melindungi hasil panen. Dengan populasi Tyto alba yang terjaga kelangsungan hidupnya, petani Desa Dempel punya harapan baru bahwa pengendalian hama tikus dapat berjalan secara alami dari musim ke musim tanpa harus mengorbankan kesehatan tanah dan lingkungan mereka.

Leave a Reply